Tulisan ini mungkin, atau tepatnya memang, tidak akan pernah sampai ditanganmu, tidak akan pernah terbaca olehmu, dan tidak akan pernah kamu bayangkan sebelumnya. Karena kamu masih kecil, masih sibuk bermain sepeda hingga sore hari, menggunting kardus-kardus kosong untuk dijadikan rumah kecil untuk boneka kertasmu, menjahit kain-kain perca untuk dijadikan pakaian barbiemu, bersembunyi di balik dinding saat 'ia' melihatmu, mencorat-coret kertas untuk menyelesaikan tugas matematikamu, atau memasak dengan kompor kecil yang kamu buat dengan lilin atau kertas bekas. Tapi mungkin, jika tulisan dikirim padamu 13 tahun yang lalu, aku ingin kamu membacanya sendirian, diatas kasur, sambil memeluk gulingmu. karena jika kamu ingin tahu, guling itu akan lapuk dalam beberapa tahun.
Ayangie, umurmu mungkin baru 7 tahun, tapi aku yakin pikiranmu bahkan sudah tumbuh beberapa tahun dari umurmu. Sebenarnya, kamu tidak perlu belajar 1 tahun untuk membaca dan menulis, karena sejak 4 tahun pun kamu sudah bisa melakukan keduanya. Bahkan aku ingat kamu sudah bisa belajar bahasa asing. Kamu sebenarnya bisa lulus dari sekolah merah muda itu dengan waktu 5 bahkan 4 tahun. Akselerasi. Mungkin kata itu asing ditelingamu, karena biar kuberitahu, kamu akan mengerti hal itu 8 tahun kemudian, dan kamu tidak tertarik untuk melakukannya. Tapi percayalah, ketika kamu melakukannya, hidupmu akan lebih mudah.
Sayang, satu atau dua tahun dari hari kamu membaca tulisan ini, keluargamu akan berkurang satu. Tidak, jangan berpikir yang aneh-aneh. Kamu hanya akan kehilangannya selama dua tahun. Ia akan kembali. Tapi selama itu terjadi, aku ingin mengingatkanmmu bahwa ada pekerjaan lain yang harus kamu lakukan. Ini rahasia diantara kita, oke? Kamu mungkin belum mengerti rasa lelahnya bekerja dari jam 8 hingga jam 3 sore selama 6 hari dalam satu minggu. Kamu pun belum mengerti rasanya harus memasak, menyapu, pun mencuci pakaian setelah seharian berada di kantor. Hal yang kamu mengerti adalah lelahnya dimarahi nenek. Jadi kamu memilih kabur dan bermain di rumah temanmu atau di lapang masjid. Tapi sayang, kalau kamu membaca tulisan ini, pulanglah. Coba bantu sedikit ibumu. JIka kamu belum mengerti caranya menggunakan mesin cuci, cobalah melipat pakaian yang sudah dijemur. Jika kamu tidak bisa memeras lap pel, cobalah untuk membersihkan jendela dengan lap yang lebih kecil. Atau setidaknya, bermainlah di dalam rumah dengan adikmu. Karena percayalah, berdua dengan nenek dirumah kadang tidak menyenangkan.
Tentang adik perempuanmu, rasanya kamu harus meluangkan waktu untuk bermain dengannya. Berhentilah bermain komputer sendiri. Biar kuberi kisi-kisi. Dalam beberapa tahun, kamu dan adikmu jadi lebih sering bertengkar. Bahkan untuk sesuatu yang kecil. Pelankan suaramu dan mengalahlah. Karena mengalah bukan berarti kalah. Aku rasa kamu harus membuat acara kecil dengannya dan ibu sebelum tidur. Bercerita tentang apa saja yang terjadi seharian ini. Aku rasa setidaknya itu akan membuatnya lebih dekat dengan keluarga. Kamu tahu? ketika dewasa ia akan jadi pembangkang karena pergaulannya salah. Lingkup pertemanannya tidak begitu baik. Aku tahu kamu masih menyesali ketidakhadiran seorang anak sebelummu. Tak apa, sampai saat ini pun aku masih menyesalinya. Tapi setidaknya, jangan berdoa agar kamu menjadi anak tunggal. Jangan menyia-nyiakan orang yang telah ada. Sejujurnya, dia baik. Hanya saja kamu dan dia yang keras kepala dan tidak mau mengalah.
Kamu, tetaplah princess. Tetap dinomorsatukan ayah ibu. Segala sesuatunya akan selalu diusahakan, jika itu kamu. Permintaanmu. Ponsel terbaru misalnya. Kamu akan selalu mendapatkan ponsel yang sesuai dengan jamannya. Walaupun sedikit tertinggal dan agak lama, bersabarlah. Pun dengan rekreasi atau pergi ke suatu tempat. Nantinya kamu akan menginjakan kaki di luar jawa barat, tanpa keluarga. bersama teman-teman. Kamu bahkan bisa pergi ke ibu kota sendirian, tanpa satupun yang mengenalmu di dalam kereta. Mungkin, kamu tak pernah membayangkannya. Kamu mungkin akan kaget ketika kamu bahkan berhasil pergi ke luar negeri. Tak perlu aku jelaskan supaya kamu terus berjuang dan belajar.
Setelah kuberitahu hal itu, aku harap kamu akan mengerti. Bahwasanya kamu akan mengeluarkan banyak uang untuk pengalamanmu sendiri, yang nantinya tidak kamu bagi dengan siapapun. Hanya kamu dan memorimu. Jadi, aku rasa memulai kebiasaan menabung adalah hal yang baik. Aku inngin sedikit bercerita kalau kamu nantinya akan sedikit banyak menghabiskan uang untuk memenuhi hasratmu pada makanan, dan juga pada barang. Aku ingin sedikit menyadarimu bahwa uang sangat penting bagi kelangsunga hidupmu.
Roda kehidupan akan berputar, sayang. Hidupmu akan ada dibawah. Dan kamu hanya akan menjalaninya bersama ibu, adik dan nenek. Ibumu tak sempat memasak untuk makan siang karena ia harus bekerja. Nenek pun tak mungkin bisa memasak. Sehingga setiap pulang sekolah, kamu harus membeli makanan untuk makan siang nenek dan adikmu. Hal yang aku bisa beritahu adalah kamu memesan nasi box dengan ayam dengan harga 3500. Jadi ibu selalu memberimu sepuluh ribu dan kamu menambahkan sisanya dengan uang jajanmu. Kamu mulai mengurangi kegiatan bermainmu dan mulai bereksperimen untuk membuat kompormu sendiri. Rasanya aku bangga padamu. Aku harap kamu mempertahankan rasa keingintahuanmu itu.
Rodamu bergulir naik ketika kamu tetap mempertahankan prestasimu. Ketika kamu bahkan dapat memilih sekolah manapun yang kamu mau tanpa perlu takut tersingkirkan. Kamu bahkan memiliki diberi kelebihan uang, pun di hari minggu. Kamu bisa membeli barang di supermarket dekat sekolahmu, di mall dekat rumahmu, pun di tempat makanan di luar sekolah yang notabennya lebih mahal. Kamu pun akan sering main ke tempat permainan. apakah kamu bersyukur?
Mungkin, takdir tak membiarkanmu berlama-lama di puncak. Ketika salah satu keluargamu meninggal dan kamu harus mengosongkan rumah. Kamu masih kecil untuk mengerti bahwa hal itu tidak adil untuk keluargamu. Harus aku peringati dari sekarang bahwa di dunia ini, terdapat orang-orang yang hanya ingin kebahagiaan untuk dirinya sendiri, orang yang serakah, pun orang yang pemalas. Aku harap kamu berhati-hati. Kamu mungkin belum menyadari bahwa rodamu akan terjepit diantara tanah dan tenggelam dalam kubangan. Karena ia bergerak secara perlahan. Aku tidak akan menceritakan lebih jauh, agar kamu tidak pusing dan panik. Aku hanya berharap kamu akan mengubah kebiasaan-kebiasaanmu menjad lebih baik.
Bagaimana kalau kamu mendengarkan ceritaku?
Diri yang penuh dengan penyesalan akan kehidupan.
Kamu tahu? Menjadi orang dewasa rasanya tidak enak. Banyak hal yang harus kamu pikirkan sebelum memulai sesuatu. Banyak hal yang harus diselesaikan walaupun bukan kita yang memulai, menjadi solusi untuk permasalahan orang lain. Bertanggung jawab atas ini dan itu. pun harus kuat menahan sanksi sosial atas perbedaan kehidupan. Entah kehidupan macam apa yang aku jalani saat ini.
Aku selalu gagal dalam banyak hal. Banyak sekali. Sampai rasanya alam menyiapkan dunia agar aku terjatuh. Padahal tidak. Aku sendiri yang menyebabkan semua yang terjadi pada garis kehidupan.
Aku selalu gagal masuk jurusan yang aku mau karena mungkin belajarku kurang, tidak benar dalam beribadah, pun menyepelekan kehidupan. Jika kamu ingin tahu, aku sudah tidak kuliah sejak semester lalu dan tidak ada satupun yang tahu kecuali ibu. Kupikir, aku harus fokus hanya pada satu tujuan. Tapi bahkan ketika aku keluar pun, tidak ada yang aku lakukan selain berjam-jam di depan ponsel. pun dengan tidur. sampai akhirnya aku tes sehari sebelum hari ini dengan ilmu yang aku pelajari setahun yang lalu. lucu. Menyepelekan kehidupan. Rasanya sudah sangat lelah dengan belajar, dengan hidup, dengan bernapas.
Masa depan? rasanya aku tidak punya. .
Rasanya, sudah berkali-kali mengundurkan diri dari kehidupan.
Tapi Tuhan, belum mengabulkan.
Aku harap kamu tidak menangis, karena ini adalah memang hal yang aku jalani. Memang aku, kebodohanku, kemalasanku, dan ketidaksiapanku akan kehidupan. Banyak waktu yang aku sia-siakan, sungguh. Aku ingin kamu belajar.
Tapi rasanya terlambat, karena kupastikan surat ini tak akan sampai padamu.
Aku, 13 tahun yang lalu.
0 komentar:
Posting Komentar