"Nada dari sang lagu mulai terputar, dan memori masa lalu sekonyong-konyong berkilas balik pada belasan tahun belakangan, ketika hidup tak sesulit dimasa sekarang. Ketika kami sekeluarga masih berkecukupan, ketika ayah masih seorang karyawan dengan gaji stabil, ketika kami belum tertipu ratusan juta dan membuat ekonomi keluarga terseok-seok, ketika gue masih bisa jajan tanpa harus berpikir harus mengirit, dan ketika rumah... adalah tujuan pulang."
Gue gapernah baca cerita yang karakternya related banget sama gue. Ya ga sama persis, but yeah. Mungkin lo bisa bayangin gimana jadi seorang Juju yang dulunya bisa dibilang kaya, gaperlu susah payah kerja, gaperlu mikirin besok gimana, makan apa. I was like him.
Jadi princess yang kerjaanya cuma belajar, temennya buku. Yang penting bisa dapet peringkat 3 besar dan gue bisa dapet apapun yang gue mau. waw.
I'd never been so touched after reading something sampai gue baca kalimat terakhir narasinya.
"ketika rumah adalah tujuan pulang"
Gue tuh... gapunya bangunan yang bisa gue sebut sebagai rumah. yang katanya tempat untuk pulang. temen-temen gue gaada yang tau soal itu. Mungkin karena gue ada di lingkungan yang bisa dibilang mencukupi semua, gue gaberani cerita. Rumah tuh... udah jadi basic orang-orang buat hidup. Gapernah ada yang nanya "lo punya rumah?", tapi lebih ke "rumah lo dimana?" "kamar lo di lantai berapa?" "kamar lo gimana sih bentuknya?".
Oh tapi, gue pernah cerita ke satu orang. Tau reaksinya kaya gimana?
"udah nyari ko di gugel. Tapi kaya gapercaya aja, kaya masa sih? soalnya.. kaya gubuk"
Agreed.
Gue kaget sih. Kaget karena nih orang bener banget kalau ngomong. Gue ga malu sih kalau dia tau semuanya. Terserah deh mau dikatain apa juga gapeduli. Karena ya, gue setuju aja. bukan rumah gue juga. Hal itu juga yang bikin gue gapernah ngasih tau siapapun, lagi.
Kadang, kalau malem gue suka berandai-andai. Gimana ya keadaannya kalau rumah gue gadijual dulu? gimana ya kalau keluarga gue ga ditipu? gimana ya kalau keluarga gue gaperlu jadi terlalu baik buat bantu orang-orang? karena orang sekarang gatau diri. Cih, cuma ada ketika butuhnya aja.
Gue juga suka ngebayangin gimana gue besok, lusa dan seterusnya. takut kadang ketika lo cuma punya langit sebagai atap dan tanah sebagai kasur. pasti bingung. sebenernya kalau, gue adalah orang pedalaman, jauh dari peradaban, jauh dari nyinyir nyinyir tetangga, gue gapapa kok, asli. malah mungkin lebih kaya menghargai hidup. gue mungkin gaperlu kuliah dan malah berkebun, atau mancing ikan. Gaada teknologi jadi mungkin bisa lebih banyak ngobrol. dahlah, halu. intinya gue takut.
rasanya ya, gue rela deh, dibawa pergi ke luar negeri asal punya rumah. punya tempat untuk pulang.
Juju, si anak tunggal yang kerja cuma buat biayain hidupnya sehari-hari, tanpa bisa ngebahagiain dirinya sendiri. Gajinya habis untuk keperluannya sehari-hari, makanan sederhana dan uang kos. Sisanya ia tabung, buat beli rumah atau sekedar menyewa pembantu untuk nemenin ibunya di kosan-tapi sejujurnya itu masih khayalan. Ibunya ada di panti jompo karena stroke, dan juju gabisa berbuat banyak buat ngerawat ibunya, karena tentu dia harus kerja. Ayahnya meninggal, tanpa menyisakan apapun. apapun.
Gue yakin di luar sana masih banyak juju juju yang lain. dan gue berharap kalau salah satunya bukan gue.
Jangan gue.
0 komentar:
Posting Komentar