Gue gak tahu bahwa melakukan sebuah rekreasi dengan berumuskan duduk di bangku MRT sembari mengikuti kemana kendaraan itu membawa rasanya bisa sedamai ini. Gue dan dia bersebelahan, jemari kami saling bertaut, stasiun demi stasiun, suara deru mesin yang terkadang cukup kencang untuk meredam suara kami,Dan Haknyeon, yang menyandarkan kepalanya di bahu gue.Anak itu tidak banyak mengatakan apapun dari setelah terkagum-kagum melihat stasiun MRT yang luas. Dari permintaan menggemaskannya untuk membeli Cimory Squeeze di minimarket, dan dari ragunya ketika menodongkan kamera depan kepada gue agar kami dapat menciptakan rekam jejak lewat medium foto.Namun segera setelah kami duduk di salah satu kursi dalam gerbong panjang, energinya hanya ia gunakan untuk menikmati kesunyian antara kami. Dengan gue yang menggengamnya erat, dengan dia yang memandang pantulan kami dari kaca gelap di depan sana.Namun gue bisa mendengar bisiknya yang lirih, dan yang ia ucapkan kala itu adalah seneng banget...Kami, menempati ruang damai.
Iya emang BxB. I know I know. The very first time I read the bxb thingy, I thrown up too. Nggak biasa karena ketika kita baca sesuatu, otak kita muter suatu adegan imajinasi yang ntah gimana ceritanya persis sama dengan yang kita baca. But the bxb things bikin mual ga sih. Setuju. Dulu gue benci banget sama wonwoo di real life karena sebuah AU bxb. Tapi yaah, karena udah gue bilang kak Ain ini kalau bikin cerita bagus banget, jadi tetep gue lanjut dan akhirnya terbiasa. Dan gue cuma membayangkan kalau gue yang ada disana, jadi si pemeran utama.
Okey balik ke topik dimana Haknyeon adalah gue. I mean as a person. The simple MRT dan kesunyian, dan jangan lupakan orang yang ada disebelah kita. Orang yang paling penting yang harus ada disana. Inti dari semunya.
Sebenernya ketika gue diajak jalan gitu ya, gue kadang mengharapkan pergi ke tempat yang rame dan banyak orang serta banyak lampu. Di kota miselnya, atau mungkin sesimpel di tempat-tempat yang jual makanan di pinggir jalan. Tapi ya emang susah juga sih bandung, ga kaya d jogja. Apalagi kalau pandemi. Tapi intinya adalah, bukan seberapa mahalnya ni tempat, bukan seberapa estetik bangunannya, tapi lebih ke seberapa banyak waktu efektif yang bisa didapet bareng orang itu. ga sih? Karena kadang gue malah gapeduli sama apa yang gue makan karena telalu fokus ngedengerin cerita misuh atau cerita kecil kenapa ada daun warnanya merah atau gimana caranya ngebangkitin trex ukuran mini.
Haknyeon adalah kata yang tak terucap. His love languages are same as me. Physical touch and quality time. I've test my self and i got them both equally. We both dont need affirmation words or even gifts. We just need being together in the period of time. Only that and it will be meaning a lot.
“Sunwoo gak sadar dari semenjak di Garut aku memang udah nuntun Sunwoo untuk kesini...”
...Hah?
Dia yang menghindar.
Gue yang punya lebih banyak kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Eric.
Dia yang menghilang.
Gue yang terpaksa menghabiskan waktu bersama Eric.
Dia yang sengaja menjadikan hari ini yang terakhir namun yang terbaik.
Gue yang kemudian dihantarkannya kesini.
I REALLY HATE THIS. Gue marah banget ketika ada orang yang suka sama orang dengan tulus, ikhlas, ridha lillahi ta'ala, tapi karena bucin akhirnya dia merelakan although his beloved one said that he had been loved him. Marah. Karena gue pikir lo gaperlu sebaik itu, Hak. Ada saatnya lo harus egois dan sadar kalau udah saatnya lo jadi reason seseorang buat moveon. Biar dia ga selalu inget dengan masa lalu.
“Mbul aku beneran gak bisa...” Gue, dan desperasi.
“Kenapa Sunwoo gak bisa?” Dia, dan perasaan sabar.
“Kamu.” Gue, dan sejumput emosi yang sarat. “Karena kamu.”
I know you don’t think that i am trying…
“Karena Sunwoo gak tega sama Mbul?” Dia, dan keikhlasan. “Tapi kan ini aku yang mau? Dan sekarang Sunwoo juga coba pikir ulang lagi ya... kali ini, bener-bener perasaanya Sunwoo sendiri aja...
...apa bener-bener bukan Eric? Yang ada disini? Di hati Sunwoo?”
Dan lo tau apa kelanjutan narasinya? Si stupid yang bernama Sunwoo ini malah flashback dan menyadari kalau hatinya masih punya orang lain, perasaannya belom kelar. Gue marah banget asli. Kalau baca dari awal pas lagi baper pasti nangis dah.
Kenapa sih ada orang yang harus ditumbalkan untuk menyadarkan orang lain akan perasaannya?
“Maaf ya… karena udah egois dan pinjem Sunwoo sebentar dari Eric.”
0 komentar:
Posting Komentar