"Coba-coba gimana waktu pertama kali liat aaliyah waktu sd?"
"B aja"
"Kalau waktu di granus?"
"Kan waktu itu udah, masa harus diceritain ulang"
"Ya gapapa. Cerita disini"
"Gamau"
"Biar nanti kalau ada apa-apa aku bisa denger"
"Engga."
"Yah... ko gitu:(" terdengar nada sedih dari si penanya.
Yang menjawab menghela napas sebelum menjawab, "hmm... beda. Beda dari waktu smp"
"Iya aku lebih tinggi kan waktu di granus?"
"Baru mau ngomong kalau kamu tetep tingginya. Semuanya beda kecuali tingginya"
"Jadi aku ga tumbuh gitu dari smp?"
"Hmm.. segitu" katanya sambil menggerakan ibu jari dan telunjuk untuk membentuk simbol kecil. "se inchi lah"
Lalu tawa. Ada tawa setelahnya.
"Kalau pas ketemu lagi di ITB?"
"Ya... kaget. Gatau pokonya gitu aja"
"Kalau sekarang? kalau sekarang Aaliyah gimana?"
"Hmmm... mending nanti aja aku kirim VN"
"Gamau. Nanti bisa di unsend"
"Gaakan di unsend"
"Gamauu ah. Yaudah ganti pertanyaan hmm.. Tau ga? aku suka warna apa?"
Dan Alastra menyebutkan seluruh warna yang ia tahu. Pink, biru, merah, hijau, tosca, tosca yang kaya gimana? kuning, krem, abu, polkadot, item, put-
"Iya itu" potong Aaliyah
"Item?"
"Dua duanya, item putih, monokrom. Kalau eskrim, aku suka eskrim rasa apa?"
"Vanilla." katanya mantap dan cepat. Mungkin Alastra tidak perlu diingatkan betapa seringnya Aaliyah mengungkapkan kecintaannya pada Vanilla.
"Mc Flurry ya? Ada rasa baru."
"Engga, ice cone aja yang rasanya vanilla. ya? plis"
"Kalau makan? Aku suka makan apa?"
"Hmmm..." katanya sambil pura-pura berpikir keras, "kodok"
"IH BENER! Kalau engga kecoak... goreng"
"Bukannya sate biawak?"
"Sate? Sate... Sate ular siih"
"Sate ular. Iya dililit, sekalian makan sama bisanya."
"Yaah mati do--"
Ujung ibu jari dan telunjuk Alastra lebih cepat dibandingkan jawaban Aaliyah. Keduanya menjepit pelan dagu Aaliyah, menarik dan mengangkatnya sedikit. Membawanya mendekat kepada si pemilik tangan. Mengecupnya untuk menghentikan ucapan Aaliyah tentang kematian.
Lalu hening...
Mungkin keduanya sibuk, saling menatap iris dari jarak sedekat itu. Keduanya mungkin harus menahan napas karena filtrum akan merasakan hangatnya udara dari hidung satu sama lain. Bagi Aaliyah, Alastra adalah sempurna. Kedua alis yang tebal dan simetris, bulu mata yang panjang, dan iris yang legam. Rasanya, Aaliyah telah tenggelam dalam lautan coklat cadburry yang sering ia beli ketika moodnya turun. Moodbooster. Alastra adalah coklatnya, kesukaannya.
Aaliyah mungkin tersenyum, memperlihatkan lesung di pipi kirinya sebelum akhirnya terkekeh pelan.
Ia kembali bertanya, "kalau first impression?" Kemudian ia tersadar, "eh? udah ya?"
"...is" jawab Alastra pelan
"Apa? Boris? Bokis?"
"Engga."
"Apa dong?"
"Engga."
"Ih yaudah. Nanti juga aku bisa denger lagi."
"first kiss" Jelas Alastra disertai dengan dehaman setelahnya
"Masa sih? gapercaya."
"Gapercaya? yaudah"
"Engga, gapercaya. Soalnya xxx(sensor)xxxx. Berarti udah pernah sebelumnya"
"Ya engga lah" Alastra membela diri, kemudian ia menyadari sesuatu, "eh iya pernah.."
"Sama kamu." jelas Alastra lagi.
"Hah? Kapan?" tanya Aaliyah, entah benar-benar bertanya atau berpura-pura
"Dulu. Sebulan yang lalu." Lalu terdengar tawa kecil dari Aaliyah.
Aaliyah menghela napas, mengontrol tawanya. Kemudian bertanya," Waktu aaliyah sd, beda ga?"
"Beda."
"Cantik ga?"
"Engga. B aja dari dulu juga"
"Lucu ga tapi?"
Yang sedari tadi ditondong pertanyaan pun menjawab, "Iya."
"Gemesin ga?"
"Engga. Nyebelin, berisik."
Mungkin akan kepanjangan kalau ditulis. Aaliyah dan semua pertanyaannya tentang pandangan Alastra terhadap dirinya, tentang pernah tidak ya Alastra ingin satu kelas lagi, tentang senang tidak ya Alastra bertemu dengan dirinya, tentang perasaan Alastra hari itu. Pun dengan pertanyaan Alastra mengenai masa lalu Aaliyah, tentang hubungan Aaliyah dengan Rasyad, tentang perasaan Aaliyah ketika belakangan ini Alastra tidak dapat menghubunginya sama sekali.
"Terakhir pesan"
"Gatau pesannya apa ya"
Sedikit hening sampai akhirnya Alastra bersuara," jangan pernah nyesel"
"Kamu kali.. kamu yang nyesel", terdengar tawa kecil dari aaliyah, "itu aja?"
"..."
"Pesannya itu aja? cepet ini hapenya ..."
"...."
"Yakin udah itu aja?"
"Tunggu"
"Tunggu apa? tunggu sampe jam berapa?"
"Tunggu sampe 2027. 2026? 2027?"
"Lama bangeet.." Aaliyah sedikit mengeluh, kemudian ia mengoreksi perkataaanya "Ya gapapa sih"
"Emang ngapain 2027?" tanya Aaliyah
"2027 ganti presiden"
"Iya gitu?"
"atau 2027 dia sibuk kerja"
Aaliyah terkekeh renyah, membuat Alastra bertanya "tau hashtag itu?"
"Tau"
Kemudian tertawa lagi, bertanya hal random lagi. 2027 Aaliyah ulang tahun hari apa, hari apa Aaliyah lahir, Aaliyah yang akhirnya sadar kalau dirinya cerewet, pacar-pacar Alastra sebelumnya, kesan Alastra ketika baca dirinya di blog pribadi Aaliyah, tentang Alastra yang selalu menunggu akhir dari pluviophile, tentang webtoon, dan segala tawa sebagai bagian jawaban dari semua pertanyaan. Sampai akhir dari tawa adalah Alastra yang mencubit cuping hidung Aaliyah.
"Iya tau pesek" Aaliyah menurunkan tangan Alastra.
"Ada yang mau diomongin lagi ga?" tanyanya kembali. Entah pertanyaan keberapa kali yang ia layangkan untuk Alastra. "Sebelum aku matiin"
Alastra berpikir sejenak sebelum ia mendekatkan bibirnya pada ponsel Aaliyah yang masih merekam percakapan mereka selama 16 menit. "love yaa"
"Yah kedeketan, nanti gakedengeran. Ulangi lagi"
Alastra menggeleng, mendengus, kemudian terkekeh.
"Yaudaah dadah.." Aaliyah menyodorkan ponsel pada Alastra. Memintanya mengucapkan sepatah kata penutup.
"Bye."
Dan satu detik tawa kecil dari Aaliyah menutup memori pada hari itu.
180514

0 komentar:
Posting Komentar