"Minggu kosong ga?"
Itu kata lo tanggal 1 desember kemarin, setelah gue menulis di sini kalau gue people pleaser, setelah gue sangat capek dengan kehidupan kelembagaan dan kuliah 10 sks tiap hari rabu. And all of sudden, you asked me (to go) to the place called hutan menyala. Gue... gapernah dengar, gapernah tau juga.
"*sent a link*"
Well, harus gue akui kalau tempatnya menarik banget. Night time with lamps surrounding you. Best place ever for hunting. But the price... i dont know will it be worth or not. Menurut gue, harga masuknya bahkan lebih mahal dari tempat makan yang biasa gue datengin sama ijah. Dan ini... lo nawarin ke gue, untuk seorang gue(?)
"iyaa pengen bet baru ada waktunya ini juga"
"lo tuh mau hunting apa healing dah"
"mau meledak sih tepatnya disana"
Do you know what i did?
I did research for stress adaptation. I dont want to be a toxic friend, yang tiba-tiba ngasih saran padahal lo cuma pengen didenger atau ujung-ujungnya gue ceritain kisah gue yang rudet dan seakan-akan gue lebih parah.
Gue ngomong sendiri, di depan boneka panda atau guling gue. Simulasi. Gue urutin apa aja yang harus gue tanya, nunggu seberapa lama, healing touchingnya pas kapan, terapheutic communicationnya gimana, apa yang harus nanti diomongin atau dilakuin ketika lo ngomong ini dan itu. Semua itu ada di otak gue. Udah kebentuk di otak gue. Gue pinter banget. Berharap everything will work out well, dan gue bisa jadi tempat yang enak buat lo cerita.
"Nanti ke kopi anjis di cigadung dulu yaa.. nyapa doang"
Hmmm? Otak gue langsung muter scene dimana gue harus ketemu sama temen-temen lo dan gue harus memperkenalkan diri. Udah ada rencana bakal duduk di sebelah mana, buka pembicaraannya gimana, topik apa aja yang bisa gue bahas, cara duduk gue gimana, salaman atau engga.
But kadang rencana tuh cuma rencana kalau ga diimplementasiin.
Ketika gue ngeliat temen-temen lo, nyali gue ciut banget tiba-tiba. I know they are welcome-and-kind people, also open minded. But, ketika lo noleh wajah lo ke gue, diikutin mata temen-temen lo -yang mana artinya temen lo nanya gue dimana-, my self-esteem dropped into its very low level. Gue sangat takut appearance gue ga proper, keselibet ngomong, atau cara gue ngomong yang ga tegas ngaruh ke persepektif mereka. Gue si ambivert yang kalau ketemu stranger people langsung diem kaya seonggok daging tanpa nyawa. How to be supel masih gue cari di wikihow. Gue cuma... gasiap. DAN GUE MENYESALI INI SETELAH SAMPE DI RUMAH. Dan kepikiran. dan tidak dapat tertidur tenang-
Pun ketika gue bareng lo. Gue tenggelam dalam pikiran sendiri ketika gue duduk di belakang lo. Yang mana harusnya gue bertanya atau mengeluarkan jokes ngasal tapi lucu, tapi gue malah diem selama di perjalan. and i become a boring person.
Pun dengan lo yang mulai cerita dan gue mulai lupa dengan apa yang aja yang harus gue tanya. Saking lostnya, gue sampe nanya hal yang berulang sampe-sampe lo dengan sabar bilang, "kan tadi udah dijelasin kalau aku tuh..."
It's weird. Ketika akhirnya gue menyadari kalau it is the last chance. Gue bisa ketemu lo. Dari awal, gue merhatiin tangan lo. berubah ga ya? masih gemeter ga ya? Jujur, sempet kepikiran buat megang tangan lo, kaya dulu, to be feeling better. Isnt it? A bit caress or pat sometimes makes us feel better, to know that is someone beside us. In a period time. Tapi setengah menit kemudian otak realistis gue bekerja dengan tiba-tiba ngomong ke hati gue sendiri, "lo tuh... ngapain? kenapa mikir gitu?sksk"
Bingung banget ketika lo kelabu. Gue gatau boundaries macam apa yang sebenernya harus gue pake. Apa aja yang bisa dan gabisa gue lakuin. Pikiran sama hati gue lagi berantem, tapi kaki terus jalan dan telinga tetep denger semua yang lo ucapin sampai akhirnya tiba-tiba udah mesen makan aja.
Dan lo ada di depan gue.
Ga di samping gue lagi.
Dan gue bisa liat mata lo dengan jelas. Ngeliat mata lo yang menggebu ketika lo menceritakan kekesalan lo selama ini. Ngeliat binar mata lo ketika cerita tentang asisten lab yang sangat sangat mengubah diri lo menjadi lebih baik dan sangaaat berkontribusi untuk menjadi seorang dafa yang ini. Kalau lo liat gue senyum, sebenernya bukan cuma proud sih, tapi lebih ke nahan nangis aja.
Gue kangen banget.
Otak gue yang tadinya masih tersisip nih memori-memori tentang assessment sama implementasi adaptasi stress apa aja yang harus gue lakuin tiba-tiba ilang. because it's only recording what are my eyes seeing. You. rasanya, memori otak gue gapunya cukup ruang selain buat lo tempati. It's kinda insane ketika mulut gue bahkan lupa buat ngomong kalau gue harus nanya kabar lo hari ini, kalau you looked good in that hair, and any lil chat that i really forgot to appreciate.
"... temen-temen aku juga tau kalau aku teh pengen banget ke sini dari dulu, cuma belum ada waktunya (.....) udah. cuma gitu weh ceunah nanaonan ke hutan malem-malem"
And i realized that i'd just made mistakes. I did nothing. Daan... kaya merasa jadi orang penting aja gitu, diajak ke tempat yang bener bener pengen banget didatengin. feel special(?)
"wanna gimme warm hug, then? like you'd said"
Kata lo diujung jalan ketika ketika mau pulang. Of course i want to do it. But di hutan tuh kayanya ga proper aja sih, dan gue lagi gasolat. Takut ditempel:(
But the moment that i could give it you, i was feeling blessed.
I realized that you still have the same heartbeat as you had back then.
Tau ga sih, daf, kalau your beats make me alive? There are only two reasons why i can stand on my own legs, and you are the second. Pernah tau ga sih kalau dulu waktu gue baru masuk sma dan gue harus adaptasi banget sama sistem sekolahnya, nilai gue yang sangat jatoh, dan gue gakenal siapa-siapa. Gue sempet denial. And i really missed you. gue gapunya motivasi lagi buat sekolah. I couldnt help myself cause we had not talked anymore. Like... never.
Then, i wrote your name down to my left wrist in arabic with henna.
Arsyi(d).
"Daf, tadi tuh gue mau bilang kalau lo ngerasa sendiri -gue gatau bakal berguna atau engga- lo harus inget kalau masih ada gue. Maksudnya, mmm, at least, kalau the world against you, gue tetep jadi orang yang pengen lo tetep disini. Gue doain lo terus btw, 5 times a day, yaaah walau kadang dikabulin kadang engga."
"👍"
"Sama ini, kalau gue di depok terus lo butuh gue, telefon aja. gue pasti dateng. Sejam. eh engga deh. Yaaah pokonya hari itu langsung nyampe. Ini promise gue aja sih"
"pinky promise?"
"pinky promise"
Cause i really mean it. i mean it.
0 komentar:
Posting Komentar