Yakin?

 2027 itu masih 5 taun lagi, btw.


There are fucking 1808 days from now.


Ugh. Kalau dipikirin aja, itutuh udah selesai profesi, udah harus mau ngambil magister. (You should, keep on the track plz). Ya gapapa, cuma mau ngasih satu pertanyaan aja.


Yakin?


"gapapa, gue bisa nunggu setidaknya sampe 2027"

Pernyataan itu kalau diliat lagi tuh... banyak banget egoisnya. Pertama, tentang orang yang ditunggu. Apasih yang sebenernya ditunggu? coba jelasin lagi. Apalagi kalau cuma dengan alesan lo nggak pengen dia sendiri gitu. Pernah kepikiran ga sih kalau emang orientasi atau prinsipnya dia gitu, gimana? Atau lebih ke... at the end of the road, kalau emang cuma lo yang ada disana, emang dia mau gitu? Duh pliz num allahuakbar. Mungkin lo nggak kepikiran kemarin2, tapi mungkin aja kalau dia baca tulisan lo kemarin dan jadi burdensome gimana? Kalau akhirnya dia gabisa bikin komitmen sama oranglain karena kepikiran lo gimana? 

Atau sekecil alesan lain, kebahagiaan orang itu hak masing2 dan lo nggak punya tanggung jawab atas kebahagian orang bish. Plis stop mikirin bahagia orang lain dulu, num. The world is cruel and you already know that. Jangan terlalu percayain bahagia lo di orang lain. Karena ketika nanti lo bener2 sendiri, gue ga yakin lo bisa berdiri sendiri secepet itu. 

And the last thing, you might miss chances to really meet your literal partner. Karena keras kepala lo itu.

Gue ngerti banget lo takut sebenernya. Samudra emang udah jadi sosok yang lo ideal kan sampe semua orang yang mendekati lo harus setidaknya mirip sama samudra. Termasuk Rasyad. Dan it is ridiculous ketika lo mengharapkan samudra ada di orang lain. 

Kalau dipikir secara rasional dan dari sudut pandang lain, kembali lagi ke pertanyaan diatas, sebenernya apa sih yang dia punya? Apasih yang lo cari?

"Do you ever feel exhausted because of me? Cause i think i did more bad things to u rather something good whatsoever"

 "No? and that's the problem. like, why?"

Gue tau alesannya sekarang. Karena lo udah terbiasa. Terbiasa ngerasain itu sehingga lo nganggep itu bukan apa-apa. Bayangin aja berapa taun lo stay di orang yang sama dan ngerasain hal yang terus keulang? Lo nggak terlalu ngerasain that tired things karena lo merasa itu bagian dari prosesnya. Iya emang sih. Tapi kalau keseringan tuh... bukannya jadi ngerugiin lo sendiri? Gimana kalau di masa depan sifat lo yang merasa 'gapapa karena udah biasa' ini ngebuat lo jadi dimanfaatin orang-orang? 

Dan lo terlalu mikirin orang lain dibandingkan diri lo sendiri. Fokus lo terlalu ke orang lain sampai kadang lupa sama diri sendiri. You denied the feeling, kalau lo sebenernya capek. And the worst? Lo kadang sakit hati karena prinsip lo sendiri, karena harapan lo sendiri. But you've been denying them all this time as your coping mechanism to be stronger or whatsoever. 

capek kan? 

Gue tau lo capek.

Accept it. 


Gue ngerti sayang lo ke samudra sebesar apa. Gue juga ngerti samudra ngasih pernyataan2 yang bikin lo bisa sampe ke tahap ini, yang mungkin bisa disebut sebagai promises. Gue juga ngerti maksud lo gimana. Gue juga nggak nyuruh lo langsung berhenti gitu aja, engga. Tapi ayo coba buat berhenti. Coba.

Lo nggak pernah nyoba.

Sesimpel plis kalau lo lagi nulis sesuatu jangan typo malah nulis nama samudra terus. Plis stop mikirin samudra sebelum tidur, He's okay. As long as he didnt tell you that smth bad happened, He's alright. Plis juga, stop scrolling the roomchat atau baca buku kuning. Tolong berhenti dari refleks2 kayak gitu. Kayak... udah lah. 


I know it's hard and hurted. But itu bakal lebih baik dibandingkan nanti. Dibandingkan lo dipaksa keadaan buat berhenti tiba-tiba. Lo bakal kena mental.


Why? karena lo sebucin itu.


Bakal seberlarut apa kesedihan lo kalau lo kehilangan laut tempat lo berenang? ketika laut tiba-tiba hilang dan jadi gersang?


Haah... berat ya? Gapapa. Setelah gue panjang lebar nulis ini, jadi gimana?



Ya? Pelan-pelan?

Share:

0 komentar:

Posting Komentar