Inferiority part 1

 "Halo, boleh ikut duduk disini?"



Pertanyaanku tadi membuat anak perempuan berseragam merah putih dengan ikat rambut hijau itu terperenjat. Ia sedikit kaget dan menatapku agak lama. Sebelum akhirnya ia mengangguk dan menjawab antusias, "iya boleh teh."

Ia menggeser sedikit duduknya. Meja kayu ini sebenarnya cukup untuk empat orang. Tapi anak perempuan ini memilih untuk duduk sendiri disini. Alih-alih duduk bersebrangan dengannya, aku justru duduk di sebelahnya. Penasaran tentang apa yang dilihatnya sejak tadi, sehingga nasi kotak di depannya pun sama sekali tak disentuh. 

Hari ini, rasanya langit sedang moody. Pagi tadi langit membiru dengan kumpulan kapas manis. Pun dengan hangatnya kirana yang memeluk raga untuk berdiri; untuk kembali bangkit dan bernapas dengan nyaman. Tapi awan mulai berkelabu, merindu bumi dengan malu. Rinai. Bahkan hingga saat ini, awan masih menyembunyikan mentari.

"Tadi ikut lomba juga ya?"

Aku membuka percakapan. Ia menoleh ke arahku yang baru saja duduk di sebelahnya. Ia kemudian tersenyum kecil, "iya. Teteh yang tadi ada di meja pendaftaran kan ya?"

Aku mengangguk."Emang suka ikut lomba nulis gitu ya?"

"Aku? Oh engga. Ini aku baru pertama kali ikut, teh. Dikasih tau sama wali kelas. Ini yang ikutan juga banyak kok teh dari kelas. Hampir 15 orang. Jadi bareng-bareng ikutnya."

"Dari satu kelas? wah banyak banget." Aku membuka kotak makan yang kubawa. Kotak makan yang sama persis dengan kepunyaan anak perempuan ini. Hmm.. makan siang kali ini tidak begiitu mewah, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan harian tubuh. Nasi putih dengan ayam asam manis, tumis sayur, perkedel jagung, air  putih, puding stroberi, jeruk dan jangan lupakan kerupuk udang. Rasanya cukup untuk mengisi perut anak-anak yang pikirannya terkuras pagi tadi. "Tapi hobinya nulis? Maksudnya emang suka nulis juga?"

"Engga. Hobi aku main sih sama baca buku. Nggak hobi nulis. Ini pun ditunjuk aja sama walikelas, jadi ikutan deh hehe." Jawabnya. Manik matanya mengarah pada kotak makan yang kupegang. Ia mengintip sebentar isi kotak makannya. Mungkin mengecek apakah isinya sama atau tidak. Lalu menatap ke araku lagi. "Kalau nulis sih, paling nulis diary. Atau ngerjain PR aja sih."

Aku terkekeh kecil, "Wah kalau gitu susah nggak tadi lombanya?"

"Hmm..." ia mempertimbangan sebelum menjawab, "Sebenernya susah sih, waktunya juga kurang. Tadi nggak sempet baca akhir ceritanya. Jadi sempet ngarang sih teh. Ngumpulinnya tadi terakhir banget sama temen, dan agak basah karena kecipratan hujan."

"Kayaknya nggak akan menang juga," lanjutnya

Aku menusukan sedotan pada air mineral, "Tapi hebat ya," 

"Hebat apanya teh?"

"Hebat. Hebat karena udah nggak nyerah duluan. Kalau udah yakin nggak akan menang dan ngerasa minder karena yang lain udah ngumpulin duluan, biasanya malah jadi nggak ngumpulin sekalian. Menurut aku itu bagus sih, nggak  nyerah selama berproses. Akhirnya selalu ngikutin proses kok. Jadi nggak perlu pesimis."

Sebenarnya, setelah mengucapkan orasi petuah tadi, aku sedikit menyesal sih. Maksudnya, it is always been my habit untuk selalu ngasih saran. Padahal  mungkin, rasanya nggak perlu. Aku sedikit mengisap air mineral. Berharap air-air suci itu mampu menghentikan kebiasaan yang kurang baik itu. 

"Gitu ya teh? Wah makasih banyak." 

Ia tersenyum, kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Tapi sekarang agak mendongkak. Aku mengikuti pandangannya sampai anak perempuan ini berkata lirih dan dengan tidak sadar, "kok disobek ..."

Anak laki-laki.

Hal yang sama-sama kami lihat adalah anak laki-laki yang berseragam persis dengan anak perempuan ini pakai. Anak itu menyandarkan kepalanya pada pagar rumah kayu kecil yang memang fungsinya untuk tempat beristirahat. Ia terlihat murung. Tangannya menyobekan kertas yang jika dilihat dari jarak ini adalah kupon makan bagi peserta lomba. Kotak makan yang tadi kubuka.

"Temennya ya itu?"

"Eh itu? Oh iya. Namanya..."

"Alastra."

Anak perempuan ini menoleh dengan cepat, mengalihkan pandangannya dari Alastra dan mengawasiku tajam. Kurasa lehernya akan sakit karena menoleh secepat itu."Teteh kenal?"

Aku tersenyum dan menggeleng, "Tadi dia minta type x karena salah nulis nama waktu pendaftaran."

"Ah..." Tangan anak perempuan yang tadinya bersila di atas meja, kini memegang ujung kotak nasinya dengan erat. "Kirain kenal"

"Kenapa nggak diajak makan bareng aja?"

"Eh siapa? Alastra?"

Aku mengangguk kecil kemudian berdeham mengiyakan, "Sengaja belum makan karena nungguin?"

"Hah? Oh engga. " katanya buru-buru. Ia mulai membuka tempat makannya. "Tadi belum lapar, teh. Tapi sekarang tiba-tiba lapar."

Ia mengambil jeruk dan mulai mengupasnya. Hanya mengupas, tidak dimakan. 

"Dia lapar juga nggak ya?"

"Alastra?"

"Uh-huh. Kuponnya nggak akan laku kalau udah disobek gitu."

Anak perempuan ini kembali mengamati anak bernama Alastra itu dari jauh. Agak lama sampai akhirnya ia menghela napas dengan kasar. Tangannya memainkan kulit jeruk yang telah terkupas dari buahnya. Sesekali ia menelan ludah. 

Aku tersenyum kecil melihat hal yang dilakukannya. Anak kecil dan segala keluguannya. Aku menutup kotak nasi yang sempat kubuka tadi dan mengeluarkan secarik kertas dari saku. "give this to him."

"Hmm?"

"Ini aku ada kelebihan kupon. Boleh dikasih aja buat temennya itu. Mungkin sekarang dia sedih kayak kamu tadi, karena lombanya susah. Mungkin dia sedih juga ngerasa nggak akan menang. Tapi yang pasti, kalau pikiran udah dipake banyak, kayak lomba tadi, perut pasti minta diisi."

Anak perempuan ini masih menatap kupon yang ada pada tangan kananku. Tangannya ragu untuk mengambil  kesempatan. 

"A.. ah ini. Aku nggak... aku nggak pernah ngobrol sama Alastra." katanya sambil mengepalkan jari, berkomitmen untuk tidak memaksakan diri untuk mengambil kesempatan.

"Nggak pernah? Oh bukan temen satu kel--"

"SEKELAS! Cu.. cuma ya, Nggak pernah ngobrol aja. Nggak begitu deket." katanya mengalihakan pandangannya kepada kotak makan, kemudian melirik Alastra sekilas, lalu kembali menatapku. "He hates me."

"Does he?"

"Hmm.. aku nggak bisa ngejelasinnya, panjang. tapi... Pokonya ada kejadian yang bikin Alastra nggak mau ngobrol lagi sama aku."

"Hmm gitu..." Aku menurunkan tangan kananku, "Jadi ada kejadian gitu. Terus dia nggak mau ngobrol sama kamu padahal udah coba? Wah dia  kayanya sakit hati banget ya sampe nggak mau ngobrol lagi."

"Eh, enggak gitu teh. aku.. emang nggak pernah coba."

"Loh? Terus tau dari mana kalau dia benci sama kamu kalau kamu nggak pernah coba?" Anak itu menatapku sendu, ia menurunkan kedua ujung bibirnya. "Pernah kepikiran kalau justru dia takut kamu yang marah karena kamu nggak pernah coba?"

Anak perempuan itu terdiam. Kedua alisnya bertautan seakan berpikir keras tentang kemungkinan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Aku mengacak poni anak perempuan ini, gemas, "Dulu, aku juga pernah gitu karena salah paham. Dan aku cuma bisa diem karena aku takut buat nyoba, nggak berani buat bicara. Karena mungkin aku ngerasa malu juga. Suatu hari aku pernah ngeyakinin diri buat coba ngobrol, seenggaknya mungkin nyapa. Aku pernah tuh, udah di depan kelasnya banget, tapi aku ngurungin niat aku karena merasa nggak siap dan memutuskan buat besok aja ngelakuinnya. Tapi besoknya aku ngelakuin hal yang sama."

"Akhirnya?"

"Akhirnya aku nggak  pernah ngobrol sampai pisah sekolah," Aku tesenyum kecil, "Aku nggak pernah tau apa yang dia rasain,pun sebaliknya. Dan aku nyesel banget buat terus diem bertahun-tahun. He could be my best friend i've ever had."

Ia berpikir sejenak, "terus teteh nyesel?"

Aku mengangguk kecil,

"nyesel." ucapku memberi jeda. "nyesel karena kenapa dulu nggak berani. Karena udah sebesar ini aku jadi susah buat berani. Karena mikirnya ya beraninya bisa besok, besok dan besoknya lagi sampai justru malah beraninya di mimpi aja, nggak pernah dilakuin. Kan sayang banget."

"Padahal... kita gapernah tau besok bakal ada buat diri kita atau engga." ucapku lagi sebelum menghembuskan napas kasar.

"Kalau..." 

"Kalau apa?"

"Kalau teteh ada di posisi aku, bakal coba ngobrol nggak?"

"Tentu"

"Ngajak ngobrol duluan"

"Uh-huh"

"Gimana caranya?"

Aku tersenyum kecil sebelum menyentuh pipinya sekilas, "you will find out. Kaki kamu akan bawa kamu kesana dan hati kamu yang bakal bicara." 

Ia menatapku lama, masih ragu sepertinya. Akhirnya aku mengeluarkan senyum terbaikku, "Sama kayak ikut lomba tadi. Mungkin tadi nggak tau bakal sesusah apa, seberat apa, tapi kalau dijalani, akhirnya bisa kan ya? Mmm.. dan gaada salahnya kok buat minta maaf kalau kita merasa salah, meskipun kejadiannya udah lama banget. Siapa tau justru dianya nggak inget kita udah buat salah, udah nggak dipikirin lagi. Tapi diri kitanya yang terus-terusan ngerasa bersalah. Nanti malah ngebatin dong~"

Ia  sedikit termenung. Ia memakan satu potong jeruk dengan pandangan yang terlihat... berpikir keras.

"Jadi, mau diambil atau engga nih kesempatannya?" tanyaku kembali

Anak ini menghembuskan napas kasar. Sangat kasar, sampai rasanya seluruh udara yang ada di prau-parunya dipaksa untuk keluar. Ia menatapku kemudian tersenyum, mengangguk dengan mantap "Iya, mau. Makasih banyak ya teh."

"Oh iya, nama teteh siapa?" tanyanya setelah kupon makan berpindah tangan.

"Shanum."

"Shanum? beneran Shanum? Nama aku juga ada Shanumnya!"

"Oh ya?"

"Uh-huh. Aaliyah Shanum. Tapi aku biasa dipanggil Aaliyah sih."

"Bagus namanya. Salam kenal Aaliyah."

Aku -- Maksudnya gue-- pun pamit, dengan alasan 'harus balik kerja karena bentar lagi pengumuman pemenang lomba'. Tapi engga, gue bersender pada tembok putih tak jauh dari sana. Mengamati Aaliyah dulu.

Gue nggak ngerti gimana ceritanya gue bisa ada disini, di zaman ini. Hal yang gue inget adalah gue abis UAS jiwa sampe pengen nangis banget ngafalinnya. Bikin ansietas. Terus gue ketiduran dan ada disini. Gue nggak ngerti apakah ini bisa disebut mimpi atau bukan, karena gue beneran ada disini, tepat 10 tahun lalu ketika gue ikut lomba menceritakan kembali untuk pertama kalinya. Gue mau pingsan banget bisa liat diri gue sendiri, duduk sendirian cuma buat ngeliatin Alastra yang nggak tau kenapa hari itu sedih banget. Gue inget banget gimana dulu akhirnya gue selalu mengamati dalam diam, nggak melakukan apapun. Dan nggak ada orang yang tau itu. Nggak ada orang yang ngedorong gue untuk percaya sama diri gue sendiri. 

Rasanya, gue pengen nyulik anak itu dan cerita semuanya. Semua tentang dirinya di masa depan.


Tapi kemudian gue menyadari bahwa  hal yang paling penting saat ini adalah... mengubahnya menjadi utuh. Menjadi seharusnya Shanum si anak sekolah yang berkembang pada usianya. Dan hal pertama yang terbersit di kepala gue adalah... menyakinkan Shanum untuk mau bicara, untuk mau berteman. Supaya cukup sampai disitu aja perasaannya, jangan disimpan bertahun-tahun lamanya. Ruang itu cukup kecil untuk ditempati rasa bersalah yang tiap tahun semakin besar. Yang sejujurnya membuat budam.

Gue... nggak tau ketika gue balik apakah hal itu akan mengubah gue atau engga, atau apakah Samudra juga akan berubah. Tapi gue nggak peduli. Gue harus bikin Aaliyah dan Alastra menyelesaikan masalahnya saat ini juga. Nggak boleh. Aaliyah nggak boleh terus-terusan diem gitu. 





















***

Note:

Ini aci wkwk. Pokonya mau sedikit ngasih pengetahuan. Kalau anak sekolah (usia SD) itu ada di masa perkembangan industry vs inferior


Masa industry itu bisa diartiin kaya masa anak mulai berubah dari egosentris ke masa kooperatif, dimana mereka udah ngeliat segala sesuatunya dari sudut pandang orang lain juga. Anak sekolah udah punya tanggung jawab, misalnya ngerjain tugas. Nah masa ini tuh masa gemilang mereka ngerjain tugas, obey the rules, etc yang bikin mereka tuh berkompetensi. 

Masa ini juga masa kenal sama orang-orang baru, temen. Biasanya anak sekolah tuh punya peernya sesama jenis. Kenapa? karena pemikirannya sama. terus ngerasa lebih di terima aja. Nah lingkungan pertemanan ini penting banget karena kalau nggak kecapai justru bikin rendah diri atau Inferior. Jadi masa-masa ini tuh masa penting to build confidence. Orang yang besarnya kurang percaya diri, kalau ngomong nggak berwibawa atau malu-malu kaya gue itu biasanya ya itu... waktu masih kecilnya nggak didorong. Jadi fase yang diri gue laluin adalah Inferior, bukan Industry. Ya mungkin industrynya ada lah di akademik, tapi buat sosialnya tuh sangat inferior. Bisa diliat ketika anak-anak kelas gue udah kenal sama anak kelas B atau C atau bahkan sama anak diluar sekolah, gue tuh baru mulai kenal kelas 5 akhiran. Dan itu telat banget. 

Children who struggle to develop this sense of competence may emerge from this stage with feelings of failure and inferiority. This can set the stage for later problems in development. People who don't feel competent in their ability to succeed may be less likely to try new things and more likely to assume that their efforts will not measure up under scrutiny.

Nah pokonya penting banget buat build confidence di tahap ini. Bisa dengan ngasih pujian atau afeksi ketika mereka merlakukan hal yang benar dan baik. Secukupnya of course. Dan penting banget buat puji effort dibandingkan hasilnya. Karena kebanyakan orang tua tuh muji anaknya kalau dapet ranking, kalau beprestasi aja. Pun yang diapresiasi adalah hasilnya, bukan kayak "ih ade keren banget udah berusaha belajar sampe malem."

I was struggle with socialize. Tapi orang tua gue gatau karena yang biasanya ditanya adalah akademik gimana, ada pr nggak. Dan karena akademik gue bagus-bagus aja, mungkin ortu gue nggak kepikiran kalau gue sulit juga berinteraksi sama orang lain. Gue juga nggak cerita karena yah gue masih kecil untuk mengerti kebutuhan gue sendiri. Mindsetnya belom dapet.  

So, masalah ini akhirnya merembet ke masa selanjutnya, masa remaja gue dimana ketika gue smp sma, gue cuma mengandalkan temen yang udah gue kenal aja. Padahal harusnya ya kenal aja semua orang.


sumpah gue... merasa beruntung aja masuk uwiw karena gue dapet materi pskologi kaya gini yang bahakan kalau gue nggak dapet mata kuliahnya gue juga nggak tertarik buat belajarnya. Ya miselnya di biologi deh, mana kepikiran gue buat belajar jiwa gini. HUHU kalau gini tuh gue suka gasabar pengen punya anak atau lebih tepatnya punya kesempatan buat raised a child. Karena di pikiran gue sudah terbentuk hal-hal yang akan gue lakuin. And i cant wait. 

Harus waitt sih.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar